Jenderal SBY Siapkan Jenderal Pramono Edy

Jum'at, 15-02-2013 07:07

Jenderal SBY Siapkan Jenderal Pramono Edy : aktual.co
Pramono Edhie Wibowo (Foto: Aktual.co/Amir Hamzah)

Namun apa pun yang terjadi, mari kita ingat apa pesan yang pernah disampaikan oleh sastrawan pemenang Nobel, asal Ceko, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting, "... Perjuangan melawan kekuasaan adalah PERJUANGAN INGATAN melawan LUPA..."


Jakarta, Aktual.Co --Entah bagaimana mendadak anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, melemparkan wacana kemungkinan Jenderal Pramono Edy yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, sangat terbuka.

Rupanya dalam perkiraan Hayono anggota Komisi I DPR RI ini, boleh jadi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki skenario lain dalam mengambil alih posisi Ketua Umum PD dari  Anas Urbaningrum.

Salah satu strategi SBY itu boleh jadi menyiapkan KSAD Jenderal Pramono Edy, adik ipar SBY, sebagai pengganti Anas Urbaningrum. Kemungkinan Pramono anak dari almarhum Letjen Sarwo Edi penumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) untuk menjadi Ketum PD terbuka lebar.

Namun tidak jelas, apakah dalam skenario itu, Pramono Edi akan dipromosi menjadi Panglima TNI terlebih dahulu. Apalagi masa jabatan Laksamana Agus Suhartono juga akan berakhir tahun ini dan kebetulan kini tiba giliran Angkatan Darat untuk kembali menjadi panglima. Sehingga nanti begitu menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014, barul Pramono diluncurkan sebagai figur utama Partai Demokrat.

"Siapapun dia, termasuk Pramono Edy dipilih secara demokratis, ya itulah ketum kita," kata Hayono di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (13/2). "Yang memilih kongres. Tapi saya ingin tahu dulu apa pertimbangannya menjadikan Pramono Edy menjadi ketum PD," kata Hayono.

Namun Hayono anak Letjen Isman pendiri Kosgoro ini meyakini, kisruh yang terjadi di Partai Demokrat sekarang ini, sama sekali tidak ada berkaitan dengan skenarion mem-plot Pramono Edy sebagai pucuk pimpinan PD.

"Tidak ada hubungannya, karena beliau masih TNI aktif dan baru pensiun tahun depan. Tapi kalau pensiun dipercepat, itu (hak) pribadi beliau," ujar Hayono.

Persepsi Mahasiswa Generasi Baru atas Para Jendral
 
Entah ada kaitan kisruh internal di Partai Demokrat dengan rencana mem-plot Jenderal Pramono Edy mantan ajudan Presiden Megawati itu, yang pasti pada hari yang hampir  bersamaan diluncurkan pula suatu survai dengan temuan yang cukup mengejutkan.
 
Kelompok Kajian Pembangunan Sosial Politik Indonesia (KKPSPI) dalam diskusi "Presentasi Hasil Survei 'Young Intellectual Opinion': Preferensi Politik Mahasiswa di Tujuh Kota Besar di Indonesia mengenai Tokoh Militer Menjelang 2014" menemukan bahwa para calon intelektual dari generasi baru Indonesia itu ternyata memiliki cara pandang tersendiri terhadap 10 jendral yang diperkirakan berpotensi menjadi bakal calon presiden.

Survei dengan metode quota sampling  atas 200 responden mahasiswa universitas negeri sejak tanggal 1 sampai 15 JJanuari di tujuh kota besar Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dan Makassar itu bertujuan mengukur kualitas capres dari kalangan militer berdasarkan  lima indikator, yaitu integritas, kapabilitas, leadership, rekam jejak, dan isu hukum dan HAM.

Hasil survey yang dipaparkan KKPSPI di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (12/2) ini memperlihatkan  nama Sutiyoso, Djoko Suyanto, dan Wiranto sebagai tokoh militer yang dipersepsikan layak jadi capres 2014. Ketiganya meraih nilai tertinggi dari 10 nama perwira dan mantan perwira tinggi yang disurvei.

Variasi Perspektif atas Para Jendral

Yang menarik adalah variasi temuan yang saling berbeda sesuai indikator yang disurvai atas masing-masing jenderal, ternyata bukan dipegang oleh jendral yang sama.

Pada indikator integritas, suara tertinggi tertuju ke mantan Panglima ABRI masa Orde Baru, Wiranto. Disusul Sutiyoso, Djoko Suyanto, Prabowo Subianto, Endiartono Sutarto, Agum Gumelar, Saurif Kadi, Pramono Edhie Wibowo, Slamet Subijanto, dan terakhir Kivlan Zein. Wiranto di posisi teratas karena dinilai mampu melaksanakan kode etik moral, mengatasi konflik kepentingan, mengambil keputusan yang tidak populer, memiliki jiwa nasionalisme dan menjaga harga diri dan martabat bangsa.

Untuk indikator kapabilitas, nilai tertinggi diraih mantan Danjen Kopassus yang kini jadi Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo. Baru menyusul Sutiyoso, Djoko Suyanto, Wiranto, Endriartono, Edhie Wibowo, Slamet Subijanto, Agum Gumelar, Saurip Kadi, dan Kivlan Zein. "Prabowo menempati posisi tertinggi yang dinilai dari pencapaian di bidang akademik dan militer, penanganan masalah bangsa dan memiliki kualifikasi khusus," kata Sekretaris KKPSPI Nayawan Persada.
 
Dari indikator kepemimpinan dan jejak rekam, mantan Pangdam Jaya dan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso dinilai unggul, karena dipersepsikan lewat cara memimpin, visi dan misi kebangsaan, memelihara keberagaman, dan pertanggungjawaban publik seusai menjabat.

Indikator penegakan hukum melejitkan nama Djoko Suyanto, mantan Panglima TNI yang kini menjadi Menko Polhukam karena dinilai bebas dari kasus korupsi, kriminal, pelanggaran HAM, permasalahan dalam keluarga dan mengakhiri masa tugas dengan baik.

Ditilik dari sisi elektabilitas berdasarkan rekapitulasi persepsi responden mahasiswa dari kelima indicator tadi, Sutiyoso berada di urutan pertama meraih 112,280 suara atau 80,2 persen diikuti Djoko Suyanto 107.100 suara yaitu 76,5 persen, Wiranto 103.320 suara atau 73.8 persen, kemudian  Endriartono Sutarto 93.940 suara atau 67,1 persen. Baru Prabowo membuntuti dengann 92.120 suara senilai 65,8 persen.

Lima jendral lagi di belakang mereka masing-masing Agum 61,4 persen, Pramono 56,3 persen, Saurip 55,5 persen, Slamet 52,4 persen dan Kivlan 45,1 persen.

"Responden menilai Sutiyoso, Djoko Suyanto dan Wiranto, adalah tokoh militer layak dipersepsikan jadi capres 2014. Ketiga tokoh dapat nilai tertinggi dari 10 nama militer yang disurvei," ujar Nayawan Persada.

Mithos Sikap Tegas Berani dan Berwibawa.

Yang perlu dicatat adalah meski dinilai unggul dalam kategori kemampuan diplomasi dan negosiasi, seta kualifikasi pendidikan dan pelatihan yang diikuti, Prabowo jika ditilik dari kategori kapabilitas sesuai hasil survei tersebut hanya meraih 23.100 suara atau hanya 16,5 persen. "Dibandingkan dengan sembilan tokoh militer lain, Prabowo hanya menempati urutan kelima elektabilitas capres 2014," kata Nayawan.

Sementara nilai unggul Sutiyoso, menurut temuan KKPSPI, adalah karena indikator jejak rekam lebih didominasi oleh kesan dari pemberitaan media, baik itu keberhasilan sebagai pejabat militer maupun publik, serta keterlibatan di lembaga sosial masyarakat.

Sehingga pengamat politik Ryaas Rasyid,menilai meski PKPI partai yang dikomandani Sutiyoso gagal menjadi peserta Pemilu 2014, itu tidak akan mempengaruhi potensi suara Sutiyoso dalam survei. Karena tokoh mantan perwira tinggi militer ternyata masih difavoritkan sebagian masyarakat yang cenderung mengidentikan figur jendral sebagai sosok yang bersifat tegas, berani, dan berwibawa.

Nayawan Persada sependapat dengan Ryaas, karena temuan survey juga menyiratkan  mitos tentang figur militer yang diidentikan dengan sifat tegas, berani, dan berwibawa, ternyata masih bercokol di benak masyarakat. Memprihatinkan. Karena, mitos itu justru telah mengidapi cara pandang kawula muda Indonesia dari generasi baru yang tidak  pernah mengalami pahit getir gejolak reformasi 1998 maupun rejim otoriter Orde Baru.
 
Mencengangkan, Padahal alasan KKPSPI memilih kelompok mahasiswa itu sebagai reponden karena didasari pertimbangan mereka adalah salah satu kelompok agen perubahan sosial yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, Tetapi temuan hasil survei itu ternyata malah memprihatinkan.

Itu sebabnya, KKPSPI berpendapat, masyarakat tetap perlu dibekali pengetahuan dan pencerahan mengenai latar belakang dari masing-masing tokoh mantan perwira tinggi militer agar dapat menilai rekam jejak masing-masing, sehingga tidak salah memilih.

"Jangan sampai pemimpin-pemimpin yang terpilih akan membawa Indonesia ke jurang kehancuran yang lebih dalam lagi," kata Nayawan

Anomali Perspektif Generasi Baru Indonesia

Pengamat politik senior LIPI, Ikrar Nusa Bhakti yang menghadiri penyajian hasil survei itu juga menyayangkan keterbatasan rujukan pengetahuan para mahasiswa di dalam menilai 10 calon presiden berlatar belakang militer tersebut. "Ini suatu anomali karena ada mahasiswa yang mau memilih pemimpin kalangan militer. Kalau generasi saya tak akan memilih militer," ujar Ikrar dalam diskusi hasil riset KKPSPI.

Apa yang disampaikan Ikrar merespon bagaimana mungkin mahasiswa memilih tokoh militer tanpa menelisik lebih jauh latar belakang mereka.Sebagai contoh adalah temuan survei yang menempatkan Sutiyoso sebagai nomor urut satu.

Padahal, Sutiyoso saat menjabat Pangdam Jaya, pernah tersangkut Kerusuhan 27 Juli 1996 atau dikenal dengan peristiwa 'Kuda Tuli,'  saat sekelompok tentara berseragam PDI pendukung Kongres Medan menyerbu Kantor pusat DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang dipertahankan kalangan prodemokrasi pembela Megawati.

Operasi intelejen itu diskenario langsung oleh SBY yang menjabat Kasdam Jayakarta, dengan pangkat Brigjen, berdasarkan rapat tanggal 24 Juli di Kodam Jaya. Berkat jasa itu, SBY oleh Suharto kemudian pada tanggal 29 Juli dipromosi menjadi Pangdam Sriwijaya dengan pangkat Mayor Jendral.
   
"Ini menunjukkan pemahaman mahasiswa terhadap tokoh militer sangat terbatas dan  hanya diperoleh dari berita surat kabar," kata Ikrar.

Seharusnya para mahasiswa menyadari bahwa sikap militer cenderung antagonis dan apriori terhadap kaum akademisi yang mengkritisi pemerintahan era Orde Baru. Itu baru pada skenario tentang Kudatuli.

Skenario Pergantian Panglima TNI

Ternyata ada juga skenario lain, seperti menata urutan tentang siapa yang menjadi Panglima TNI, di mana seorang marsekal dan suatu matra dipecundangi. Itulah saat Endriarto Sutarto yang memasuki masa pensiun dijadikan Panglima TNI dengan mengorbankan Marsekal Hanafi Asnan, yang seharusnya sesuai giliran berhak sebagai pengganti atas posisi yang dijabat Laksamana Widodo AS tersebut.

Pengubahan mendadak giliran jadi Panglima TNI, yang saat awal reformasi, ditetapkan sebagai TNI AD, diganti AL, lalu diganti AU, dan kembali lagi dengan siklus AD, AL, AU, mendadak jadi AD diganti  AL, kembali ke AD lalu baru AU, kembali ke AD lagi, terus AL untuk kembali ke AD dahulu sebelum AU menggantikan, dan seterusnya, sungguh mengecewakan kalangan TNI AU.

Kejadian yang memprihatinkan itu bisa ditengarai dari upacara hari ulang tahun TNI AU ke 56 tanggal 9 April 2002 di Pangkalan Utama Halim Perdana Kusuma, yang untuk pertama kali dan satu-satunya upacara besar suatu matra TNI, yang tidak dihadiri langsung oleh Presiden, Wakil Presiden maupun Panglima TNI,

Bahkan KSAD Jenderal Endriarto Sutartoi juga tidak hadir, Hanya ada KSAL Laksamana Indroko Sasatrowiryono yang hadir .Sehingga, KSAU Marsekal Hanafie Asnan yang kemudian  bertindak sendiri selaku Inspektur Upacara.

Dan skenario pendadakan guna mengubah penggiliran menjadi Panglima TNI itu yang kini membuat  KSAD Jenderal Pramono Edy berpeluang besar untuk menjadi Panglima TNI yang akan datang. SBY, yang semasa insiden yang menciderai Hanafie Asnan saat itu menjabat sebagai Menko Polkam, tentu boleh berharap besar.

Namun apa pun yang terjadi, mari kita ingat apa pesan yang pernah disampaikan oleh sastrawan pemenang Nobel, asal Ceko, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting,  "... Perjuangan melawan kekuasaan adalah PERJUANGAN INGATAN melawan LUPA..."

Dhia Prekasha Yoedha
Berita Terkait



Berita Lainnya



eXTReMe Tracker