Dalam Kasus "Fraud" Di Perbankan, Indonesia Masih Yang Terbaik

Vicky Anggriawan - Kamis, 05-07-2012 15:33

Dalam Kasus
Ronald Wass (Foto: thejakartaglobe.com)
Jakarta, Aktual.co — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Ronald Wass ungkapkan jumlah kejahatan terbesar dalam layanan perbankan elektronik adalah pada alat pembayaran menggunakan kartu, terutama penggunaan kartu kredit, Jakarta, (5/7).

"Jenis fraud yang paling banyak terjadi adalah pada pencurian identitas dan Card Not Present (CNP) yaitu masing-masing sebanyak 402 kasus dan 458 kasus dengan nilai kerugian masing-masing mencapai Rp1,14 miliar dan Rp545 juta yang dialami oleh 18 penerbit," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Ronald Wass. (5/7).

Ronald menambahkan, pada Mei 2012 tercatat 1.009 kasus fraud yang dilaporkan dengan nilai kerugian mencapai Rp2,37 miliar. Walaupun demikian, berdasarkan data Mastercard, peringkat fraud Indonesia berada pada posisi ke dua terendah dibandingkan dengan negara lain di Asia Pasifik.

Sedangkan berdasarkan data Visa, peringkat fraud Indonesia berada pada posisi ke tiga terendah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, jauh lebih rendah dibandingkan Singapore dan Malaysia.

Perhitungan ini diperoleh berdasarkan Nilai Fraud dibagi dengan Total Nilai Transaksi dalam periode perhitungan.

Dalam kesempatan seminar Pencegahan dan Penanganan Kejahatan pada layanan perbankan elektronik yang diadakan di Bank Indonesia, Ronald Wwass memaparkan penggunaan chip pada kartu Atm/debit harus mulai digagas dan selambatnya dilakukan pada akhir 2015, demikian pula dengan penggunaan 6 digit PIN pada kartu kredit yang selambatnya dilakukan pada akhir 2014.

Sementara terkait regulasi ia menambahkan, saat ini sudah ada UU Perlindungan Konsumen dan Bank Indonesia selaku regulator juga sedang membahas mengenai PBI Perlindungan Konsumen baik untuk perbankan maupun pelaku sistem pembayaran.

"Kami akan terus menaruh perhatian terkait peningkatan perlindungan konsumen guna menjaga terciptanya hubungan yang saling menguntungkan antara investor-nasabah-lembaga perbankan," ujarnya menegaskan.

Hal ini penting agar dapat terwujud ketahanan industri keuangan dan perbankan, yang selanjutnya diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Faizal Rizki

Komentar
Nama
Email
Komentar
Kode Verifikasi