Margaret Thatcher, Pilar Utama Pendukung Liberalisasi Global

Rabu, 10-04-2013 08:30

Margaret Thatcher, Pilar Utama Pendukung Liberalisasi Global   : aktual.co
Margaret Thatcher (Foto:nation.com.pk)

Salah satu kebijakan perpolitikan yang didorong oleh duet Reagan-Thatcher memang dikenal sebagai upaya untuk menggalakkan liberalisasi global.


Jakarta, Aktual.co — "As Ron once put it: the nine most dangerous words in the English language are 'I'm from the government, and I'm here to help'." (Sebagaimana Ron pernah mengucapkannya: sembilan kata yang paling berbahaya dalam bahasa Inggris adalah 'Saya dari pemerintah, dan saya di sini untuk membantu').

Kata-kata itu diucapkan mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher (1925-2013), saat mengenang sahabat karibnya, mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan (1911-2004).

Kedua sahabat itu memang sangat akrab dan dikenal sebagai dua raksasa yang membangkitkan gerakan konservatif di era perpolitikan global pada dekade 80-an.

Salah satu kebijakan perpolitikan yang didorong oleh duet Reagan-Thatcher memang dikenal sebagai upaya untuk menggalakkan liberalisasi global.

Beragam keluaran dari pemikiran liberalisasi global masih tampak keras hingga kini seperti beragam perjanjian pasar bebas antarnegara atau kawasan.

Selain itu, gerakan konservatif juga dikenal sebagai suatu pergerakan yang dapat disebut "antipemerintahan" karena lebih percaya kepada mekanisme pasar dan menilai intervensi pemerintah kepada pasar sebagai hal buruk.

Sejak era Thatcher, gencarlah muncul gerakan swastanisasi dan liberalisasi yang kini kerap menjadi bahan kritikan dari berbagai pihak.

Pada Senin (8/4), Thatcher telah meninggal dunia menyusun kawannya Reagan yang telah meninggal sembilan tahun sebelumnya.

Berdasarkan berita dari kantor berita Reuters, wanita berjuluk "Iron Lady" itu meninggal dunia pada usia 87 tahun akibat stroke.

Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron, mengatakan bahwa Inggris telah kehilangan seorang pemimpin dan warga negara Inggris besar.

Bahkan, Cameron (yang juga berasal dari partai yang sama dengan Thatcher, Konservatif) mempersingkat lawatannya ke sejumlah negara di Eropa.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Indonesia, di mana Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut berduka cita atas meninggalnya mantan Perdana Menteri Inggris tersebut.

"Presiden telah mendapatkan laporan langsung dari Menlu Marty terkait hal ini, Presiden turut berbela sungkawa. Beliau telah mengintruksikan menteri luar negeri untuk mengirimkan rasa belasungkawa baik kepada keluarga maupun pemerintah Inggris," katanya melalui sambungan telepon, Senin (8/4).

Anak pemilik kelontong Berdasarkan keterangan dari ensiklopedia Wikipedia, Thatcher dilahirkan dengan nama Margaret Hilda Roberts di Grantham, Lincolnshire, Inggris, pada 13 Oktober 1925.

Ayah Thatcher adalah Alfred Roberts, yang memiliki dua toko kelontong. Dia dan kakak perempuannya dibesarkan di bawah asuhan ayahnya yang aktif dalam berpolitik di tingkat lokal.

Thatcher sendiri tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan bahkan sempat menjadi Presiden Oxford University Conservative Association pada 1946.

Sejak di tingkat kuliah, Thatcher sangat dipengaruhi oleh buku seperti "The Road to Serfdom" karya Friedrich von Hayek yang mengecam intervensi ekonomi oleh pemerintah sebagai indikasi awal dari negara otoritarian.

Sebelum terjun ke dunia politik, Thatcher sempat bekerja sebagai periset di bidang ilmu kimia. Dia akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen pada 1959.

Sebelas tahun kemudian, kariernya di dunia perpolitikan terus bertambah maju dengan diangkatnya dia sebagai Menteri Pendidikan dan Sains di bawah kabinet yang ditunjuk Edward Heath.

Selanjutnya, pada 1975, Thatcher mengalahkan Heath dalam pemilihan kepemimpinan Partai Konservatif.

Setelah di tampuk partai, Thatcer menjadi Pemimpin Oposisi sekaligus sebagai perempuan pertama yang memimpin partai politik besar di Inggris Raya.

Thatcher akhirnya dapat menjadi Perdana Menteri setelah memenangkan pemilihan pada tahun 1979.

Pada saat berkantor di 10 Downing Street, PM Thatcher mengeluarkan serangkaian kebijakan yang menekankan deregulasi (khususnya di sektor finansial), dan juga gerakan swastanisasi besar-besaran dari banyak perusahaan negara.

Popularitas Thatcher pada awal pemerintahannya sempat menurun tetapi kemudian dapat bangkit karena dinilai dapat memulihkan ekonomi Inggris serta kepemimpinannya yang tegas selama Perang Falkland pada 1982 melawan Argentina.

Thatcher terpilih kembali sebagai Perdana Menteri untuk masa jabatan kedua pada 1983 dan kemudian terpilih ketiga kalinya pada 1987.

Ibu dua anak itu akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri baik sebagai Perdana Menteri maupun pemimpin partai pada November 1990, ketika ada sebagian dari partainya yang tidak setuju dengan kebijakannya.

Pemikiran Thatcherisme Filsafat politik Thatcer sering disebut sebagai Thatcherisme. Ketika diminta menjabarkan pemikirannya dalam majalah Woman's Own pada September 1987, Thatcher menyatakan ketidaksetujuannya bila seseorang menyatakan bahwa warga menyatakan bahwa berbagai permasalahannya seharusnya dituntaskan oleh pemerintah.

Karenanya, Thatcer juga melakukan sejumlah langkah seperti menarik subsidi dari beragam industri di Inggris yang dinilainya sedang dalam keadaan pasar yang sedang menurun.

Subsidi, menurut dia, adalah "created the culture of dependency, which had done such damage to Britain" (menciptakan budaya ketergantungan, yang telah sangat merusak Inggris).

Pencabutan subsidi itu juga mengakibatkan Inggris pada masa kepemimpinannya kerap terjadi ketegangan sosial.

Secara keseluruhan, istilah Thatcherisme dapat dikaitkan dengan kebijakn politiknya yang mencakup antara lain nasionalisme, keberpihakan terhadap hak individu, dan pendekatannya yang nonkompromistis dalam mencapai sasaran politiknya.

Karena sikapnya yang kukuh dalam memegang pandangan itu, orang Soviet (negara Komunis yang kini telah runtuh) menjulukinya sebagai "Iron Lady" (Wanita Besi), dan julukan itu melekat secara global.

Masa kepemimpinan Thatcher selama 11 tahun dan 209 hari merupakan rekor Perdana Menteri terlama setelah Lord Salisbury yang berkuasa 1885-1898.

Bahkan, pada tahun 1999, majalah Time menamakan Thatcher sebagai salah satu dari 100 Orang Terpenting dalam Abad ke-20.

Mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengatakan, Thatcher merupakan politisi hebat dan seseorang yang akan selalu dikenang dalam sejarah.

"Thatcher merupakan politisi dengan untaian kata yang memiliki makna yang mendalam," kata Gorbachev yang juga merupakan peraih Nobel Perdamaian.

Mantan pemimpin negara Komunis itu juga mengatakan, dirinya bertemu Thatcher pertama kali pada tahun 1984 dan pertemuannya tidak selalu mulus, tetapi Thatcher dinilai sebagai sosok yang selalu serius dan bertanggung jawab.

Thatcher telah meninggal tepat satu dekade setelah kematian suaminya, Sir Denis Thatcher.

Pada saat pemakaman suaminya, Thatcher menyampaikan pidatonya, "Being Prime Minister is a lonely job. In a sense, it ought to be: you cannot lead from the crowd. But with Denis there I was never alone. What a man. What a husband. What a friend."
(Ant)
Epung Saepudin
Berita Terkait

UCAPAN SELAMAT PRESIDEN


Berita Lainnya



eXTReMe Tracker