Makanan berpengawet, zat pewangi, sayuran dan buah berpestisida,  asap kendaraan bermotor, asap Rokok merupakan sumber Radikal Bebas. Netralkan Dengan Kangen Water Air Minum Antioksidan Tinggi
25 May 2013 06:46:47
Fitrah Optimistis
14 Aug 2012 11:44:22
Yudi Latif
Seperti burung yang riang pulang ke sarang, kita rayakan kepulangan ke rahim fitri dengan suka cita.

Di kesempitan sarangnya unggas bernyanyi riang rayakan kelapangan, lantas tertidur pulas tanpa mimpi ketakutan. Tetapi manusia terkadang lebih malang dari satwa. Di kelapangan rumahnya, kesempitan hati membuat keriangan terasa sepi yang menikam.

Gema takbir (pengagungan Tuhan) mengajak kita keluar dari kesempitan ke kelapangan jiwa. Dalam kebesaran Tuhan, setiap insan merupakan wujud  ciptaannya yang paling sempurna dengan kondisi awal yang sama-sama suci (fitrah).  Kayakinan akan keaslian yang suci mengandaikan setiap orang  memiliki cetakan dasar ketuhanan (person of God) dengan lentera hanifnya yang menuntun ke jalan benar.

Sebagai citra Tuhan, manusia seyogyanya memandang hidup secara positif dan optimis. Bahwa setiap pribadi tidak tercipta secara sia-sia, melainkan orang-orang istimewa dengan misi kepahlawanannya sendiri-sendiri. Pertama-tama kita harus berprasangka baik dengan desain penciptaan Tuhan, karena Tuhan akan bereaksi sesuai dengan prasangka itu. Dalam hadits Qudsi disebutkan, ”Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku.”   

Prasangka baik pada Tuhan akan mengembangkan sikap positif  pada hidup dan sesama. Bahwa pemikiran dan tindakan baik tak akan berbuah keburukan; begitupun pemikiran dan tindakan buruk tak akan berbuah kebajikan. Dalam ungkapan James Allen, ”Pemikiran mulia akan melahirkan pribadi mulia, pemikiran negatif akan melahirkan kemalangan.”

Menurut Psikolog David D. Burn, depresi kejiwaan merupakan hasil dari pemikiran yang salah. Pemikiran negatif mendistorsikan persepsi sehingga segala hal dipandang buruk dan tak bermakna. Ketika seseorang atau  suatu bangsa depresi oleh belenggu pesimisme dan ketidakbermaknaan, daya hidup dilumpuhkan oleh nestapa 4 D (defeated, defective, diserted, dan deprived) yang dihayati sebagai kebenaran mutlak.  Untuk keluar dari penjara ini, Burn menganjurkan perlunya pemikiran positif dan mengembangkan rasa optimis (feeling good).

Lebaran (berarti rampung atau luas) menghadirkan optimisme yang lebar, setelah manusia berhasil melewati ujian dan rintangan selama menjalani kremasi Ramadhan. Bahwa hidup bukanlah tanpa kesulitan dan ujian. Tapi kesulitan dan ujian bukanlah kutukan yang mendorong keputusasaan dan kesesatan, melainkan keberhasilan dan kegembiraan yang tertunda.

Dalam sebuah hadits dikatakan, ”Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan jalan keluar itu akan selalu beriringan dengan cobaan.” Seorang penyair Arab menambahkan, ”Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah kepahitan, dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik ’Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik dari pepohonan berduri.”

Prasangka baik akan melahirkan optimisme. Dalam sikap optimis, setiap momen adalah istimewa dan setiap hari adalah lebaran. Timbullah hasrat  untuk merebut hari ini, memberi makna bagi hidup dan berbagai kebahagian dengan sesama.

Seperti kata Thich Nhat Hanh dalam The Miracle of Mindfulness,  ”Waktu terbaik adalah hari ini; orang terpenting adalah orang terdekat; perbuatan terpenting adalah berusaha membahagiakan orang-orang terdekat.”

Dalam kehidupan negeri yang dikepung kabut pesimisme dan apatisme,  semoga semangat Idul Fitri membawa kebeningan kembali langit harapan!




Komentar
  • Cordy
    6 Mar 2013 12:35:05
    Whoa, things just got a whole lot eiaser.
Kirim Komentar
Telah Terbit Majalah Aktual Edisi IV Mei 2013