Pertamina Bantah Terjadi Kelangkaan BBM di Atambua - NTT

Albertus Vincentius - Senin, 11-03-2013 11:17

Pertamina Bantah Terjadi Kelangkaan BBM di Atambua - NTT : aktual.co
Manajer Pemasaran Pertamina Wilayah V Nusa Tenggara Timur (NTT), Ronny Anthoko (Foto: Aktual.co/Albertus Vincentius)

"Tidak ada kelangkaan BBM di sana, karena pasokan dari Depo Pertamina Atapupu sangat mencukupi untuk empat SPBU yang ada di Kabupaten Belu"


Kupang, Aktual.co —Manajer Pemasaran Pertamina Wilayah V Nusa Tenggara Timur (NTT), Ronny Anthoko, bantah terjadi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Atambua, Kabupaten Belu dalam seminggu terakhir.

Bantahan tersebut disampaikan Rony saat dihubungi di Kupang, Senin (11/3), terkait isu kelangkaan  BBM di wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste itu dalam sepekan terakhir.

“Tidak ada kelangkaan BBM di sana, karena pasokan dari Depo Pertamina Atapupu sangat mencukupi untuk empat SPBU yang ada di Kabupaten Belu,” jelasnya.

Menurutnya, setiap hari Depo Pertamina Atapupu mengirim 10 -15 ton BBM ke semua SPBU. Lagi pula jumlah kendaraan di Kota Atambua jauh lebih sedikit dibandingkan Kota Kupang.

Dia menuturkan, masalah yang terjadi di Atambua dan wilayah sekitarnya, karena lemahnya pengawasan dari semua pemangku kepentingan. Sebab, tanggung jawab Pertamina hanya sampai ke SPBU.

“Kami  telah meminta aparat keamanan dan pemerintah kabupaten setempat untuk membantu mengawasi penyaluran  BBM, sehingga tidak diselewengkan atau dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.       

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, kehabisan bahan bakar minyak, khususnya bensin, dalam sepekan terakhir.

Akibatnya, konsumen terpaksa harus mengisi eceran yang dijual di pinggiran jalan dengan harga
Rp5.000 persetengah botol jenis jenever serta jerigen ukuran lima liter dengan harga Rp45.000 atau setara Rp9.000 perliter.

"Kami beli bensin dari SPBU," kata seorang penjual bensin eceran di sekitar Gereja Polycarpus
Atambua soal dirinya mendapatkan bahan bakar tersebut, Minggu (10/3).

Sementara itu, Bernando Seran, salah seorang pejabat di lingkungan pemerintahan Kabupaten Belu menduga ada konspirasi antara para pengelola SPBU dengan para pedagang eceran dalam Kota Atambua serta kemungkinan besar diselundupkan ke Timor Leste, sehingga kendaraan bermotor sulit mendapatkan langsung BBM di SPBU

Dugaan yang dikemukakan Bernando Seran yang juga Direktur Pusat Pengkajian Budaya Belu cukup beralasan. Hampir sepanjang jalan dari perbatasan Batugade menuju Distrik Bobonaro dan Liquisa Timor Leste, warga Timor Leste dengan bebas menjual bensin dari Indonesia.

Harga eceran bensin yang dijual seukuran setengah botol jenis jenever mencapai USD2 atau mendekati Rp20.000. Sementara, harga bensin yang dijual di SPBU yang ada di Timor Leste mencapai USD1,45 atau sekitar Rp14.500/liter.

"Tingginya harga BBM di Timor Leste menjadi utama orang menyelundupkan BBM bersubsidi ke negeri seberang untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya," kata Bernando Seran yang juga mantan jurnalis itu.

Penyelundupan BBM ke Timor Leste biasanya melalui jalan-jalan tikus, namun banyak pihak juga
khawatir bahwa penyelundupan tersebut terkadang juga melalui jalur jalan resmi, setelah ada
"kesepakatan rahasia" antara penyelundup dengan petugas keamanan di perbatasan.
Faizal Rizki
Berita Terkait



Berita Lainnya



eXTReMe Tracker