Proklamasi Itu Hanya Sebuah Pintu
17 Aug 2012 09:16:17
Proklamasi Indonesia (Foto: devry.wordpress.com)
Bangunan rumah ini dibangun atas lima pondasi berpintu.
Hidup dalam rumah ini beragam makhluk, baik yang bernyawa dan tidak bernyawa. Salah satunya adalah manusia.
Meski bangunan rumah itu belum terbentuk sempurna, seharusnya rumah menjadi tempat kediaman yang nyaman dan lapang bagi setiap penghuninya. Karena ada harmoni yang muncul dalam interaksi sesama penghuni rumah ini.
Namun, sejak pondasi dan pintu dibuat, bentuk sebuah bangunan rumah itu tak pernah kunjung terbentuk. Salah satu penghuninya, manusia, masih saja tidak puas dengan susunan pondasi itu. Ada yang ingin merobohkan, diganti dengan model pondasi yang dianggap lebih kuat. Ada yang ingin mempertahankannya. Ada yang mencoba menambah pondasi lagi agar lebih kuat lagi. Ada pula yang acuh.
Ketika sekelompok penghuninya mencoba menyempurnakan bentuk rumah itu, selalu proses pembangunan itu runtuh atau berhenti di tengah jalan karena selalu dan selalu terjadi perselisihan antar penghuni rumah itu tentang bagaimana bentuk bangunan rumah itu nantinya.
Sekelompok manusia ingin bangunan rumah itu mirip dengan bangunan rumah tetangga sebelah. Sehingga bentuk pondasinya harus dirubah total. Sekelompok manusia lainnya ingin bangunan rumah ini tetap dengan pondasi yang sudah ada. Intinya, bentuk bangunan rumah ini harus sesuai dengan keinginan kelompok-kelompok manusia itu. Mereka lupa, penghuni bangunan rumah ini bukan mereka saja.
Akhirnya, bangunan rumah itu tetap saja berbentuk lima pondasi dan sebuah pintu. Tanpa atap, tanpa dinding, tanpa pagar dan tanpa identitas-identitas yang bisa menunjukkan bahwa bangunan ini adalah sebuah rumah yang nyaman dan lapang.
Egoisme, individualisme dan kepentingan pribadi/kelompok sebagian manusia penghuni bangunan rumah itu membuat bangunan itu tak pernah terwujud. Mereka tidak pernah sadar bahwa hanya dengan prinsip gotong royong, persatuan, dan keikhlasan untuk berbagi, bangunan rumah itu bisa dibangun menjadi sebuah rumah yang nyaman dan lapang.
Dan lihat, pintu utama rumah yang kokoh yang sudah ada itu terlihat tersandar tanpa arti di salah satu pilar pondasi itu. Pintu utama itu jadi tidak pernah berfungsi untuk menjadi tempat keluar masuk penghuni ke bangunan rumah itu.
Soekarno-Hatta hanya hanya pembuat pintu untuk melengkapi pondasi rumah yang sudah ada.
Soekarno Hatta bukan manusia yang akan membentuk dan membangun rumah di atas pondasi yang sudah ada itu.
Soekarno-Hatta hanya sepasang manusia pembuat pintu itu. Tak lebih.
Kita yang akan melengkapi, membentuk, membangun dan menjadikan bangunan rumah itu agar menjadi nyaman dan lapang.
Namun setiap kali kalendar Masehi menunjukkan 17 Agustus, kita selalu "dipaksa" untuk melihat onggokan sebuah pintu rumah yang bersandar pada pondasi rumah itu tanpa arti....
Mari kita fungsikan pintu dan pondasi itu kembali agar bisa menjadi selayaknya pintu dan pondasi yang punya arti.
Mari kita bangun rumah itu agar menjadi rumah yang nyaman dan lapang bagi setiap penghuninya.
Mari BerTujuhbelasan....
Faizal Rizki
-
rumah dijual
18 Oct 2012 09:40:42
mengapa proklamasi di blang hanya sebagai sebuah pintu ya ?????
Kirim Komentar