Jingitiu, KepercayaanTradisional Orang Sabu

Albertus Vincentius - Senin, 26-11-2012 07:02

Jingitiu, KepercayaanTradisional Orang Sabu : aktual.co
Kampung Adat di Pulau Sabu, NTT (Foto:Aktual.co/Albertus Vincentius)

Menurut kepercayaan Jingitiu, kekuasaan mewujud dalam hierarki yang jelas, mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat.


Kupang, Aktual.co — Pulau Sabu di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga saat ini masih menyimpan sebuah misteri tentang kepercayaan tradisional. Jingitiu, demikian masyarakat setempat menyebutnya. Kepercayaan tersebut, erat kaitannya dengan penguasa alam semesta.

Menurut kepercayaan Jingitiu, kekuasaan mewujud dalam hierarki yang jelas, mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat.
 
Jejak dari kepercayaan ini adalah banyaknya kuburan batu, gua pemujaan, dan hukum adat serta kekuasaan di masyarakat atau di desa-desa adat. Eksistensi kepercayaan Jingitiu menjadi penanda bahwa agama modern belum menyentuh sisi terdalam kebudayaan orang Sabu.
 
Ama Lay Lado, salah seorang tokoh masyarakat Sabu, yang ditemui di Menia, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, beberapa waktu lalu, menuturkan kekuasaan menurut kepercayaan Jingitiu ada sejak nenek moyang orang Sabu yang dikenal dengan nama Kikaga dan Liura.
 
Lay Lado mengisahkan, konon mereka tinggal di Pulau Sabu, tepatnya di Gua Merabu. Kekuasaan dalam kepercayaan orang Sabu tertata secara hierarkis mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat. Konsep kekuasaan ini masih dijalankan meskipun mayoritas penduduk Sabu saat ini beragama Kristen.
 
"Konsep kekuasaan ini diperoleh Kikaga atas petunjuk Lirubala (Tuhan langit) di atas sebuah batu merah (Wadumea). Hingga kini, gua Merabu dan Wadumea dikeramatkan oleh orang Sabu. Selain tidak boleh sembarangan orang menjamahnya, di kedua tempat ini juga sering digelar upacara adat," jelasnya.
 
Kepercayaan ini bermula dari cerita rakyat Sabu. Awalnya, Kikaga adalah seorang pencari ikan. Suatu ketika, datanglah sosok dari langit bernama Ludji Liru yang menanyakan dari mana asal Kikaga, apa yang dicari. Kikaga menjawab, ia berasal dari seberang dan sedang mencari ikan. Kikaga lalu diajak Ludji Liru ke kahyangan menghadap Lirubala.
 
Selama di kahyangan, Kikaga terus menangis. Karena itu, ia dikembalikan ke bumi dan diminta untuk tidur di atas batu merah (Wadumea) untuk menantikan sesuatu yang akan diturunkan dari langit.
Hingga sekarang, penganut Jingitiu menjaga Wadumea yang dianggap sebagai tempat Kikaga mendapat petunjuk dari Tuhan langit atau Lirubala.
 
Keesokan harinya, Kikaga mendapatkan dua hal dari langit. Pertama, kepandaian dan keterampilan untuk mengajarkan budi luhur tentang Tuhan, kemanusiaan, dan lingkungan. Kedua, Kikaga mendapatkan Liura (puteri matahari) sebagai istrinya.

Selanjutnya, keduanya tinggal di dalam Gua Merabu dan beranak-pinak menurunkan orang Sabu sekarang ini. Dalam perjalanan suci mengajarkan budi luhur, Kikaga mengendarai kerbau. Oleh karena itu, hingga sekarang kerbau menjadi binatang yang dikeramatkan oleh orang Sabu.
 
Menurutnya, penganut ajaran Jingitiu percaya bahwa keturunan Kikaga dan Liura mulai berkembang dari kampung yang bernama Teriwu Raeae. Mereka membentuk sebuah komunitas bernama Mone Ama yang artinya 'tujuh laki-laki yang dibapakkan'.
 
Sejak dahulu, lanjutnya, di wilayah ini sudah terbagi dalam tujuh bagian yang dipimpin oleh tujuh pejabat, yaitu Deo Rai, Dohe Leo, Rue, Bangu Uda, Pulodo Muhu, Mau Kia, dan Bawa Iri. Tujuh pejabat tersebut memiliki tugas masing-masing, yaitu; Deo Rai, bertugas menjalankan dan memimpin upacara yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat, seperti upacara meminta hujan, mencegah hama, memohon panen yang melimpah, menangkal bencana atau penyakit, dan lainnya.
 
Dohe Leo, bertugas mengawal wilayah dan pengamat upacara. Misalnya, jika terdapat kesalahan dalam pelaksanaan upacara yang bisa mendatangkan kutukan, Dohe Leo akan meminta bantuan Deo Rai.
  
Rue, bertugas melaksanakan upacara penyucian. Artinya Rue akan menggelar upacara penyucian pengganti jika ada pelaksanaan upacara yang salah.
 
Bangu Uda, bertugas mengurus tanah warga,Pulodo Muhu adalah panglima perang yang bertugas menjaga keamanan wilayah.
 
Mau Kia, bertugas melaksanakan pengadilan dan menyelesaikan sengketa atau konflik di antara warga atau dengan warga kampung lain.
 
Bawa Iri, bertugas menjaga, memelihara, dan membawa alat-alat upacara.
 
Dalam pelaksanaan upacara adat, jelasnya, ketujuh pejabat di atas memiliki anggota-anggota yang terdiri dari: Kiru Lihu (penolak perang), Lado Aga (penjaga kedamaian), Lado Lade (penjaga keindahan dan kelestarian alam), Hawa Ranga (pengatur musim), dan Puke Dudu (penenang gelombang laut). Struktur paling bawah disebut Do Gau atau rakyat. Do Gau bertugas mengikuti upacara dan melaksanakan anjuran serta petunjuk.
 
"Pengetahuan Suku Sabu tentang kekuasaan hingga sekarang masih diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun mayoritas penduduk sudah memeluk agama Kristen. Jumlah pengikut Jingitiu, diperkirakan masih ada sekitar 10 persen dari  jumlah penduduk Kabupaten Sabu Raijua atau 8000 orang, yang menyebar di seluruh wilayah ini," tuturnya.
 
Meskipun kini kepercayaan tradisional itu masih ada dan masih dipertahankan oleh para pengikutnya, membuat gundah Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome. Hal ini lantaran aliran Jingitiu kurang dilindungi dan difasilitasi oleh pemerintah dan elemen masyarakat lain. Bahkan, di tengah persoalan kemiskinan dan keterbatasan yang dialami para penganut Jingitiu berdampak pada lunturnya daya magis dari sebuah ritual.
 
Misalnya, tuturnya, jika setiap ritual harus menggunakan hewan kurban yang besar, tetapi karena masalah kemiskinan maka hanya dilakukan dengan seekora ayam atau sabut kelapa yang dibakar sebagai pengganti hewan kurban, maka daya magisnya akan hilang.
 
"Saya akan mengembalikan kepada yang sebenarnya dan mereka akan melakukan ritual adat yang sungguh-sungguh sehingga apapun yang diinginkan dari ritual itu akan terwujud, dan saya akan memfasilitasinya," kata Dira Tome.
 
Ia mengatakan, pemerintah bertindak sebagai penengah dan memberikan ruang yang luas baik kepada agama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha, juga kepada agama suku Jingitiu untuk tetap eksis. Akan ada kebijakan khusus untuk melindungi aliran Jingitiu agar jangan sampai hilang.
 
Model pemberian ruang oleh pemerintah itu, lanjutnya, ketika anak dari orang yang menganut aliran Jingitiu lahir dan dipermandikan sesuai ajaran Jingitiu yang dikenal dengan sebutan 'hapo', maka anak tersebut punya hak untuk mendapatkan akte kelahiran. Tidak harus menunggu permandian seperti di agama Kristen, tapi dia punya hak untuk mendapat akte dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
 
Selain itu, tambahnya, orang yang menganut aliran Jingitiu ketika dinikahkan oleh gereja jangan dipaksakan untuk menjadi Kristen. "Meski pasangan Jingitiu itu menikah sesuai adat dan kepercayaan Jingitu, kita berikan akte nikah," katanya.
 
Ia mengatakan, langkah itu diambil pemerintah sebagai bentuk keberpihakan untuk melindungi agama suku agar jangan musnah lantaran keinginan agama. Hakikat sesungguhnya bukan persoalan orang menjadi pengikut agama Kristen, Islam, Katolik dan sebagainya, tetapi bagaimana orang bisa menjalankan norma kepercayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran moral dan kepentingan masyarakat.
 
Hingga kini, jumlah masyarakat Sabu Raijua yang menganut aliran Jingitiu semakin berkurang. Hal itu lantaran ada kebijakan masa lalu yang keliru. Selain itu, ada kegiatan upacara adat yang tidak bisa diabaikan kerena aliran Jingitiu penuh dengan ritual dan prosesi adat. Bahkan, dari bulan ke bulan ada ritual yang wajib dilakukan oleh kepercayaan Jingitiu.
 
Menurut dia, pemerintah dan semua elemen masyarakat Sabu Raijua harus memberikan perlindungan sehingga penganut Jingitiu dapat dengan nyaman melakukan segala ritual itu agar budaya Sabu jangan sampai hilang. "Saya ingin mereka tetap eksis," katanya.
 
Melestarikan budaya, termasuk memelihara aliran Jingitiu di Sabu, merupakan ciri dari orang bermartabat. Langkah perlindungan yang ditempuh itu bertujuan memberikan perlindungan dan penghormatan kepada agama suku ini agar tetap ada.Upaya ini merupakan wujud usaha Orang Sabu dalam melestarikan ajaran leluhur.
Oki Baren
Berita Terkait



Berita Lainnya

  • 18 Sep 2014 02:15:00
    Wakil Ketua Timnas Peneliti Situs Megalit Gunung Padang, Ali Akbar, Rabu (17/9), mengatakan, meskipun penelitian tengah berjalan, namun kunjungan wisata ke situs tersebut, tidak ditutup, namun ada jarak tertentu agar tidak mendekati lokasi penelitian.
  • 17 Sep 2014 20:11:34
    "Kami memelihara dan merawat situs secara fisik dengan membangun drainase saluran air, perkuatan lereng, dan jalan setapak untuk pengunjung," katanya di Situs Gunung Padang, Cianjur, Rabu (17/9).
  • 17 Sep 2014 03:41:00
    Wakil Ketua Timnas Peneliti Situs Megalit Gunung Padang, Ali Akbar, Selasa (16/9), mengatakan, beberapa artefak yang ditemukan sebelumnya, seperti mata tobak, trak logam, tongkat, gerabah, dan lainnya, rata-rata sudah ada sejak 5200 SM ditemukan pada kedalam 2 hingga 3 meter.
  • 16 Sep 2014 20:53:31
    Tak hanya itu, pesona keindahan batik, ternyata mampu menarik berbagai kalangan untuk mempelajari cara pembuatannya. Di kota Malang, batik mempunyai tempat tersendiri bagi para pecinta dan seniman, salah satunya yakni Batik Celaket yang kini sudah dikenal di dunia.
  • 16 Sep 2014 06:04:00
    "Benda ini telah diamati dan diperkirakan asli buatan manusia zaman dulu, dimana batunya dipangkas di semua permukaan dan digerinding atau digosok, sehingga menjadi halus termasuk permukaannya," kata Ali Akbar Timnas Peneliti Gunung Padang, Senin (15/9).
  • 15 Sep 2014 19:21:15
    "Ulos Batak atau kain tenun ikat ini dikerjakan oleh 20 orang anggota kelompok perajin binaan Bank Indonesia secara bergantian selama sekitar tujuh bulan," ujar Asisten Direktur Bank Indonesia, Susi Masniari Nasution, di Balige, Minggu (14/9).
  • 15 Sep 2014 04:32:54
    Tradisi ritual 'Kabuenga' yang dianggap mengandung nilai-nilai sakral oleh masyarakat Wakatobi, di masa lampai digelar sekali dalam setahun, yakni pada setiap usai merayakan Hari Raya Idul Fitri.
  • 14 Sep 2014 08:18:42
    "Ada 10.334 buah koleksi yaitu berupa aksara dan bahasa yang tersimpan di Museum" kata Pustakawan Perpustakaan Nasional RI, Sanwani Sanusi, di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu (14/9).
  • 13 Sep 2014 15:43:07
    Sejumlah Penari Topeng menghibur pengunung Monas, Jakarta, Sabtu (13/9/2014). Pemerintah Provensi DKI Jakarta mengelar acara festival budaya lebaran betawi dengan menampilkan kesenian betawi dan rumah betawi di Monas. AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB
  • 12 Sep 2014 06:06:00
    Pemilik Sanggar Seni Arrdy Ambardi di Kulon Progo, Kamis (11/9), mengatakan bengkel gamelan miliknya menerima jasa reparasi berbagai jenis gamelan yang rusak hingga restorasi gamelan menjadi seperti baru lagi.
  • 11 Sep 2014 06:07:00
    Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho dalam sambutannya mengatakan, dalam perjalanannya, pelaksanaan FDT awalnya dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten setempat.
  • 10 Sep 2014 23:21:52
    Benda keramik, antara lain berupa guci, teko, dan mangkuk, tersebut ditemukan di kawasan penambangan pasir di kompleks Situs Liyangan, kawasan lereng Gunung Sindoro.
  • 9 Sep 2014 23:50:02
    "Untuk mendukung hal itu dalam waktu dekat meluncurkan buku Seni Lukis Klask Bali," kata Pemilik Museum Seni Lukis Klasik Bali, Nyoman Gunarsa, di Semarapura, Klungkung, Selasa (9/9).
  • 9 Sep 2014 21:11:04
    Anggota DPR Kabupaten Aceh Barat dari Fraksi Partai Aceh (PA) Bantalidan di Meulaboh, Selasa (9/9) mengatakan, "beut sifeut 20" merupakan kegiatan keagamaan yang selalu dilakukan oleh masyarakat. Karenanya butuh upaya mempertahankan kegiatan ini melalui pengembangan kebudayaan.
  • 9 Sep 2014 20:10:03
    "Kita berharap ukiran-ukiran asal daerah ini dipanjang di seluruh kantor yang ada di Jayapura. Hotel di daerah itu juga harus pajang," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, di Jayapura, Selasa (9/9).
  • 9 Sep 2014 19:56:04
    "Kesenian wayang ini, sebenarnya masih banyak penggemarnya. Selain lucu dan unik, pagelaran wayang ini paling murah biayanya," ucap Suhardi.
  • 9 Sep 2014 06:06:00
    "Kami menemukan pecahan benda-benda kuno, seperti keramik, logam, tembikar, dan tulang belulang," kata Ketua Tim Penelitian Benteng Kota Lama Semarang, Novida Abbas, di Semarang, Senin (8/9).
  • 5 Sep 2014 21:12:14
    Asisten Bidang Perekonomian, Pembangunan dan SDA Setda Kulon Progo Triyono di Kulon Progo, Jumat (5/9) mengatakan festival ketoprak ini dalam rangka melestarikan dan mengembangkan seni budaya, serta meningkatkan kreativitas pelaku sebi di masyarakat, khususnya ketoprak.
  • 5 Sep 2014 20:53:25
    Penggalian untuk menemukan benteng Kota Lama itu dilakukan di lahan yang berada di belakang Kantor Perum Damri Semarang, dimulai Jumat ini, ditangani oleh tim arkeolog yang beranggotakan sembilan peneliti.
  • 5 Sep 2014 20:44:56
    "Dari peta kuno Kota Semarang tahun 1756, memperlihatkan gambar kawasan Kota Lama yang dipagari benteng dengan kanal di sekelilingnya," katanya di sela penggalian Benteng Kota Lama Semarang, di Semarang, Jumat (5/9).
  • 5 Sep 2014 01:32:00
    "Duta seni Gianyar menyuguhkan seni pertunjukan epos Ramayana, berjudul 'Kumbakarna Gugur' yang dikemas dalam empat jenis pagelaran," kata Made Sidia dari Sanggar Paripurna Gianyar yang menata dan penggarap pertunjukkan kolasal itu, Kamis (4/9).
  • 4 Sep 2014 21:18:16
    "Permainan "adu betason" ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan berkembang cukup baik di Kabupaten Bangka Barat, khususnya di Muntok, untuk itu kami harapkan pemkab setempat tanggap dan cepat mematenkannya agar tidak diklaim daerah atau negara lain," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Bangka Tengah, Zaidi, di Muntok, Kamis (4/9).
  • 4 Sep 2014 21:05:10
    Jalan kaki menuju Danau Butong ini dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dan sampai di Danau Solai di sekitar menuju danau itu sudah dibangun tempat jaga dan fasilitas tempat jaga dan tempat buang air kecil dan besar (WC).
  • 4 Sep 2014 20:52:43
    Luas kawasan yang memiliki keaneka ragaman hayati yang relatif lengkap, baik yang hidup di dalam air, di darat ataupun di udara berupa burung dan serangga ini sekitar 2.475 hektare.
  • 4 Sep 2014 17:09:13
    Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, memberikan keterangan pers di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (4/9/2014) Kementerian Agama (kemenag) memberikan keterangan soal isu tentang pemindahan makam Nabi. Kemenag menyatakan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak memiliki rencana untuk memindahkan makam Nabi Muhammad Saw di Masjid Nabawi, Madinah. Menurutnya, informasi itu ia dapatkan setelah melakukan tabayyun (mengkonfirmasi informasi secara langsung dengan otoritas resmi) kepada duta besar Arab Saudi di Indonesia, Mustafha bin Ibrahim Al-Mubarok.Aktual/Junaidi Mahbub


eXTReMe Tracker