Gletser Mencair Munculkan Artefek Baru

Senin, 02-09-2013 07:54

Gletser Mencair Munculkan Artefek Baru : aktual.co
Artefak tunic yang di Temukan Saat Gletser Mencair

"Penemuan baru ini sangat penting untuk menggambarkan bagaimana kaitan dunia pakaian dan produksi tekstil Eropa utara dengan bangsa Romawi," ungkap Marianne Vedeler dari Universitas Oslo, Norwegia, yang meneliti pakaian tersebut.


Jakarta, Aktual.co — Akibat pemanasan global di muka bumi yang semakin parah, mengakibatkan mencairnya lapisan es di pegunungan di Norwegia, sehingga memunculkan suatu penemuan artefak peninggalan masa silam. Dan salah satu penemuan ini adalah sebuah tunik dari zaman besi, anak panah dan busur fragmen dari zaman Neolitikum yang diperkirakan berusia sekitar 6000 tahun.

"Penemuan baru ini sangat penting untuk menggambarkan bagaimana kaitan dunia pakaian dan produksi tekstil Eropa utara dengan bangsa Romawi," ungkap Marianne Vedeler dari Universitas Oslo, Norwegia, yang meneliti pakaian tersebut.

Tunik tersebut ditemukan di gletser Lendbreen di Norwegia, sebagian berwarna keputihan akibat paparan matahari dan angin. Pakaian ini dibuat antara tahun 230 dan 390 Masehi dan merupakan salah satu dari hanya segelintir tunik yang berasal dari periode ini. Dua kain yang berbeda yang ada dan ujung serat mengungkapkan bahwa keduanya terbuat dari wol.

"Tunik dari Lendbreen sekilas seperti sejenis pakaian hangat yang sering digunakan oleh pemburu yang kerap berburu di dataran es Skandinavia untuk mengejar rusa. Di baju itu tidak ada tombol atau ikatan, tetapi itu hanya seperti sweater," terang Vedeler.

Salju di pegunungan Norwegia dan di tempat lain yang dengan cepat mencair karena perubahan iklim, kini memunculkan penemuan-penemuan baru yang begitu terawat. Anak panah dan busur fragmen yang berusia jauh lebih tua dan juga ditemukan di dataran salju yang meleleh di bawah sinar matahari.

Martin Callanan dari Universitas Sains dan Teknologi Trondheim, Norwegia yang menulis makalah mengenai panah dan busur fragmen, mengatakan, "Ketika orang kehilangan anak panah, sulit untuk menemukan benda itu lagi di padang salju."

Selama ini, artefak-artefak ini terawetkan dengan baik mengingat tuanya usia dang tingkat kerapuhan mereka. Namun seiring dengan cepatnya salju mencair, artefak lain mungkin bisa rusak sebelum sempat ditemukan.

"Jumlah dan keantikan dari beberapa artefak ini belum pernah terjadi sebelumnya di hampir sepanjang abad sejarah penelusuran ladang salju di wilayah ini," kata Callanan, dikutip Aktual.co dari laman berita Inggris, Selasa (2/8).
Nurlail Qadr -
Berita Terkait



Berita Lainnya

  • 20 May 2015 21:11:00
    Masyarakat yang mengikuti labuhan dalam rangka Hajat Dalem Kraton Ngayogyakarto ini antusias untuk mendapatkan "lorotan" berupa nasi serundeng dan "suwiran" daging ayam yang sebesar kepalan tangan tersebut serta berbagai rupa bunga yang digunakan dalam prosesi labuhan.
  • 16 May 2015 16:09:43
    "Bahwa hidup dan kehidupan itu di bumi. Setiap manusia membangun diri untuk bermakna dan mampu berbagi dengan sesamanya di bumi. Hidup haruslah membumi,"
  • 15 May 2015 07:51:00
    Keputusan untuk mengasuransikan anggota kontingen Kotim, mengingat ada beberapa cabang lomba yang dinilai berisiko terhadap keselamatan. Di antaranya cabang lomba dayung, sepak sawut atau bola api serta manetek dan maneweng atau memotong dan membelah kayu.
  • 14 May 2015 16:15:27
    Bangsa Indonesia tidak maju karena umumnya mereka bersikap anti-filsafat. Di Indonesia, mempelajari filsafat bagi sejumlah kalangan dianggap “berbahaya,” karena dikhawatirkan bisa berujung ke melemahkan agama atau “melupakan Tuhan.”
  • 11 May 2015 04:37:25
    Witte Pall dibangun tahun 1839 oleh Gubernur Jenderal DJ De Eerens yang berkuasa sejak 1836-1840. Fungsi pilar ini sebagai satu satu titik triagulasi primer Pulau Jawa yakni titik koordinat penentu letak sebuah lokasi berdasarkan tinggi permukaan laut.


eXTReMe Tracker