Situs Makam Para Aulia di Barus Rusak Diterjang Banjir

Sabtu, 01-12-2012 13:45

Situs Makam Para Aulia di Barus Rusak Diterjang Banjir : aktual.co
Situs makam Aulia Barus (Foto: melayuonline)

Di Kecamatan Barus terdapat 44 makam aulia (ulama) yang sangat berjasa dalam membangun dan mengembangkan Islam di kawasan itu.


Jakarta, Aktual.co — Salah satu situs bersejarah, yakni makam para aulia (ulama) pengembang Agama Islam di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mengalami rusak dihantam arus Sungai Sirahar, akibat banjir yang melanda daerah tersebut.

"Makam aulia berlokasi di Desa Kinali, Kecamatan Barus tergerus banjir sepanjang 386 meter, dan hampir rubuh," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Bonaparte Manurung ketika dihubungi dari Medan, Sabtu (1/12).

Kota Barus terletak di pinggir Pantai Barat Pulau Sumatera. Barus pernah menjadi pusat peradaban pada abad 1-17 M sehingga menjadi salah satu tujuan wisata serta bagi para peneliti arkeologi Islam, baik dari dalam dan luar negeri.

Di Kecamatan Barus terdapat 44 makam aulia (ulama) yang sangat berjasa dalam membangun dan mengembangkan Islam di kawasan itu.

Bonaparte mengatakan, makam aulia mengalami kerusakan cukup parah, saat terjadinya banjir di Kecamatan Barus, Minggu (11/11).

Makam tersebut hampir hanyut diterjang arus Sungai Sirahar, akibat banjir yang terjadi di daerah tersebut.

Bahkan, menurut dia, bangunan makam bersejarah pendiri Agama Islam tersebut, tidak kokoh lagi akibat terus dihantam banjir.

Apalagi, jelasnya, bangunan makam aulia itu sudah berusia cukup tua dan mencapai ratusan tahun.

"Jadi, jika makam tersebut terus dilanda banjir dan terjadinya abrasi, dikhawatirkan akan hancur. Bukti peninggalan bersejarah di Barus akan hilang," ucap dia.

(Ant)
Faizal Rizki
Berita Terkait



Berita Lainnya

  • 27 Jul 2014 15:50:13
    “Karena Ini hampir lebaran mas, jadi saya memang biasa bersih-bersih makam orang tua saya,” katanya saat ditemui Aktual.co usai berziarah makam, Minggu (27/7).
  • 27 Jul 2014 13:35:49
    "Alek Bantai Adat dan Rantam ini merupakan budaya masyarakat Tiku Kecamatan Tanjung Mutiara secara turun temurun," kata tokoh masyarakat Tiku Suada Hakim di Jorong Sungai Nibuang Minggu (27/7).
  • 27 Jul 2014 06:15:05
    Ribuan warga di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat melaksanakan tradisi "maleman" setiap malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang dilaksanakan secara bergantian pada setiap lingkungan.
  • 25 Jul 2014 11:06:22
    "Ekskavasi arkeologi di Situs Mnuraidi dan Situs Kampung Tua Padwa di wilayah Biak Selatan ditemukan sejumlah tinggalan arkeologi berupa fragmen tembikar hias maupun polos," kata ketua tim eksplorasi Balai Arkeologi Jayapura Erlin N Djami di Jayapura, Jumat (25/7).
  • 18 Jul 2014 13:27:33
    "Ritual untuk tanaman maupun binatang piaraan merupakan refleksi humanisasi dan penghormatan petani tehadap tanaman, hewan dan aneka sumberdaya alam (hutan, sumber air)," kata Prof Windia yang juga ketua pusat penelitian subak Universitas Udayana di Denpasar, Jumat (18/7).
  • 15 Jul 2014 11:44:37
    "Ya, ada kenduri ketupatan setelah 15 hari Ramadan dijalankan," kata salah seorang warga Kelurahan Sumber Karya Kota Binjai Mahruzar, di Binjai, Selasa (15/7).
  • 14 Jul 2014 03:37:00
    "Makan kacang tak lengkap rasanya jika tidak disertai pisang. Kami senang bisa ke pasar ini untuk memilih kacang kesukaan untuk dibawa pulang," kata Dewi Abdulah, seorang pengunjung.


eXTReMe Tracker