Masyarakat Agam Pertahankan Mairiak

Kamis, 28-02-2013 03:00

Masyarakat Agam Pertahankan Mairiak : aktual.co
Tradisi Mairiak (Foto: duniajuwita.wordpress.com)

"Tradisi ini tetap kita pertahankan demi menjalin silaturahim antara petani," kata Syahrial


Jakarta, Aktual.co — Tradisi mairiak atau merontokan padi dengan kaki masih bertahan di Jorong Matur Katiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat di era teknologi canggih saat ini.

Salah seorang petani di Matua Katiak Syahrial (53), Rabu mengatakan, tradisi mairiak ini bertujuan untuk meningkatkan silaturrahim dan mempertahankan budaya tolong menolong antara masyarakat setempat, karena saat panen padi dilakukan dengan cara gotong royong mulai dari memotong padi sampai mairiak.

"Tradisi ini tetap kita pertahankan demi menjalin silaturahim antara petani," kata Syahrial di sela-sela panen padi sabatang atau system of rice intensification (SRI) di Jorong Matur Katiak, Nagari Matur Hilia, Kecamatan Matur, Rabu (27/2).

Dia menambahkan, dalam satu hari mampu menyelesaikan 150 karung dengan berat 3.000 kilogram dan jumlah tenaga sebanyak 10 orang.

Sebelumnya, tambah Syahrial, petani panen mengunakan mesin perontok padi, sehingga pekerjaan tidak dilakukan dengan cara gotong royong.

Wakil Bupati Agam Irwan Fikri meminta kepada petani agar mempertahankan pola panen seperti ini dengan tujuan agar menjalin kebersamaan.

"Hal ini harus dibudayakan dan Pemkab Agam siap memberikan bantuan kepada petani, berupa pembangunan jalan usaha tani dan lainnya," tambahnya.

Pada tahun 2013, Pemkab Agam menargetkan sebanyak 299.855 ton Gabah kering giling (GKG) dengan luas panen padi 55.136 hektare dengan target produktivitas sebanyak 54,39 kwintal per hektare.

Sedangkan tahun 2012 produksi GKG sebanyak 312.571 ton dari luas panen 58.754 hektare, tahun 2011 produksi GKG hanya 289.634 ton dengan luas panen 55.329 hektare dan tahun 2010 produksi GKG sebanyak 279.144 ton dengan luas panen sebanyak 52.054.
(Ant)
Tri Wibowo -
Berita Terkait



Berita Lainnya

  • 18 Jul 2014 13:27:33
    "Ritual untuk tanaman maupun binatang piaraan merupakan refleksi humanisasi dan penghormatan petani tehadap tanaman, hewan dan aneka sumberdaya alam (hutan, sumber air)," kata Prof Windia yang juga ketua pusat penelitian subak Universitas Udayana di Denpasar, Jumat (18/7).
  • 15 Jul 2014 11:44:37
    "Ya, ada kenduri ketupatan setelah 15 hari Ramadan dijalankan," kata salah seorang warga Kelurahan Sumber Karya Kota Binjai Mahruzar, di Binjai, Selasa (15/7).
  • 14 Jul 2014 03:37:00
    "Makan kacang tak lengkap rasanya jika tidak disertai pisang. Kami senang bisa ke pasar ini untuk memilih kacang kesukaan untuk dibawa pulang," kata Dewi Abdulah, seorang pengunjung.
  • 12 Jul 2014 07:45:00
    Proses mumifikasi yang dilakukan suku Angga sangat teliti dan cermat, langkah pertama adalah menggorok lutut, siku dan kaki mayat serta lemak di tubuh mayat dikeringkan sepenuhnya. Setelah itu tiang bambu yang sudah dilubangi ditusukan ke perut mayat agar darah mengalir keluar, tetesan darah yang keluar tersebut dioleskan ke rambut dan kuit kerabat dari mayat tersebut, hal ini dipercayai akan memindahkan kekuatan dari orang yang sudah meninggal kepada kerabatnya.
  • 11 Jul 2014 06:21:00
    Sesuai dengan namanya, Tari Rampak Bedug adalah sebuah tarian yang menggunakan bedug sebagai salah satu alat utamanya. Tari Rampak Bedug bisa ditemui di beberapa daerah di wilayah Banten. Rampak artinya adalah serempak, jadi Tari Rampak Bedug bisa diartikan sebagai menari sambil menabuh bedug secara bersama-sama dan serempak.


eXTReMe Tracker