Memaknai Ucapan Salam dari Sinetron Tukang Bubur

Minggu, 12-05-2013 13:06

Memaknai Ucapan Salam dari Sinetron Tukang Bubur : aktual.co
B. Wiwoho (Foto: Istimewa)

Marilah kita mulai dengan membahas ucapan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Setahun terakhir ini ada sebuah seri sinetron televisi yang amat sangat populer, yaitu “Tukang Bubur Naik Haji”.


SAUDARAKU, perbuatan baik atau amal saleh apakah yang sudah anda lakukan hari ini? Sesungguhnya, banyak hal yang bisa dan harus kita lakukan sebagai hamba Allah SWT dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebagai khalifatullah fil ard atau wakil sekaligus utusan Gusti Allah di muka bumi, maka kita wajib mengisi serta memberi makna kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Kita wajib membangun monumen tugu amal saleh yang indah, yang pondasi dan struktur bangunannya adalah iman yang kokoh.

Di dalam Al Qur’an, kata “iman” pada umumnya digandengkan dengan “amal”. Misalnya dalam surat Al Bayyinah (98:7), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”.

Contoh lain lagi adalah surat An Nahl (16:97), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”.

Mengapa cukup banyak kata “iman” yang dikaitkan dengan kata “amal”, karena amal merupakan realisasi dari iman. Iman tanpa amal, tidak banyak arti dan kemaslahatannya, dan hanya Tuhan serta diri kita saja yang tahu benar tidaknya. Akan tetapi bila iman dikaitkan dengan amal, maka akan nampak wujudnya dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian iman baru akan sempurna jika dibuktikan atau diwujudkan dalam amal perbuatan dan perilaku.

Dalam rangka membuktikan keimanan kita, marilah kita berlatih melakukan amalan-amalan sederhana, yang bisa kita mulai dengan memaknai serta mengamalkan bacaan-bacaan populer yang sudah kita kenal selama ini, namun justru karena sangat populer acapkali kita memperlakukannya sebagai hal yang rutin, datar bahkan sering tanpa makna, “boro-boro” kita amalkan dalam perilaku.

Marilah kita mulai dengan membahas ucapan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Setahun terakhir ini ada sebuah seri sinetron televisi yang amat sangat populer, yaitu “Tukang Bubur Naik Haji”. Mari kita perhatikan, hampir dalam setiap babak diawali dan diakhiri dengan ucapan salam,  padahal isi ceritanya tentang  pertengkaran, iri-dengki, gosip bahkan fitnah. Demikian berulang-ulang terjadi.

Sinetron ini menggambarkan dengan tepat kebiasaan masyarakat kita sehari-hari. Bukankah kita sering menyaksikan, mengalami atau bahkan mungkin melakukannya sendiri, tatkala mengucapkan atau membalas salam. Mungkin kita tidak menyadari, mengucapkannya sambil ogah-ohan setengah hati, “salam!”. Atau berteriak “Assssalammmmualaikummmm……..”.

Padahal ucapan salam itu doa berarti kita sedang berbicara dengan Gusti Allah Sang Maha Raja di Raja, menyampaikan permohonan. Pantaskah? Layakkah? Sopankah, berbicara dengan Sang Maha Kuasa sambil berteriak? Layakkah kita memperlakukan ucapan doa yang begitu mulia itu bagaikan sebuah mainan? Layakkah kita sering mengucapkan tapi tidak mengamalkannya?

Semua umat Islam pasti tau ucapan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, yang artinya “ Semoga kedamaian, rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada anda”.Ucapan salam yang merupakan doa tersebut menjadi kebiasan dan ciri khas umat Islam, mematuhi ajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah sebagai berikut: “ Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan yang bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian”.

Hadis lain yang diriwayatkan Abu Daud dan Tarmizi, menjelaskan derajat nilai penggalan-penggalan salam yaitu “Assalamualaikum” dengan 10 pahala, “Assalamualaikum warahmatullah” dengan 20 pahala dan diucapkan lengkap “Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh” sebagai 30 pahala.

Jika kita kaji secara cermat, hakekat dan tujuan menyebarkan salam yang dilandasi keimanan itu adalah untuk saling mencintai. Agar suasana serta hubungan saling mencintai bisa terwujud maka salam atau kedamaian, rahmat dan berkah itu harus diamalkan, dikerjakan sebagai perilaku menjadi perbuatan dan tindakan. Bukan hanya sekedar diucapkan.

Apalah artinya Haji Muhidin dan Mak Enok dalam sinetron tadi selalu mengucapkan salam, bila perilakunya senantiasa menerbarkan kebencian dan permusuhan? Jika selalu menaruh syak wasangka buruk kepada orang lain? Jika mau menang dan benar sendiri? Jika perangainya kasar lagi merendahkan orang lain? Jika perilakunya ujub-riya dan merasa sudah menggenggam kunci surga? Jika membagi senyum saja pelit? Semua pasti tidak suka terhadap Haji Muhidin dan Mak Enok.

Sebaliknya kita senang terhadap Rumanah, Haji Salam dan Emaknya yang lembut, pemaaf, penuh cinta kasih lagi peduli terhadap sesamanya. Karena itu kita jangan sampai mau menjadi orang yang seperti Haji Muhidin (sebelum tobat) dan Mak Enok. Bahkan cucu saya yang baru berumur 3,5 (tiga setengah) tahun pun tidak mau disamakan dengan mereka.

Agar kita bisa mengamalkan dan menebarkan kedamaian serta cinta-kasih, maka marilah kita mulai dengan berdamai pada  diri sendiri. Memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri sekaligus memaafkannya dengan kebesaran hati jika menemukan kekurangannya, dan sebaliknya mensyukuri segala kelebihan serta kenikmatan yang kita peroleh;  memahami hakekat eksistensi kehidupan kita selaku khalifatullah fil ard. Sesudah bisa menciptakan kedamaian pada diri sendiri, selanjutnya menyebarkan sebagaimana perintah Baginda Rasul, kepada orang-orang serumah, kepada isteri/suami, anak-cucu, sanak-saudara.

Dari rumah kita melangkah keluar, kepada tetangga kiri-kanan, depan-belakang. Sudahkah kita bertegur sapa secara baik. Jika kita baru pindah rumah, sudahkah kita datang memperkenalkan diri kepada tetangga-tetangga baru kita? Dengan rendah hati menanyakan serta mempelajari tata pergaulan lingkungan? Berperilaku sopan lagi baik, bertegur sapa dan murah senyum? Sudahkah kita peduli terhadap sekeliling kita? Menjaga agar keberadaan dan kegiatan kita tidak merusak lingkungan tempat tinggal kita? Sumbangsih apa yang sudah kita berikan untuk menciptakan kedamaian, rahmat dan berkah pada lingkungan tempat tinggal kita?

Dari lingkungan tempat tinggal, kita melangkah lebih jauh ke lingkungan pergaulan, pekerjaan, ke masyarakat luas, bangsa dan negara. Bekal dan tujuan, visi dan misinya tetap sama yaitu iman dan amal saleh berupa kedamaian, rahmat dan berkah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Itulah saudaraku, salah satu amalan sederhana sehari-hari yang mestinya mudah namun justru sering kita abaikan. Marilah kita bersama-sama melatih diri serta saling mengingatkan untuk mengamalkan ajaran yang luar biasa indahnya tersebut, dan Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

B.Wiwoho, Tasawuf Jawa.

Ari Purwanto
Berita Terkait



Berita Lainnya

  • 16 Aug 2014 06:38:00
    Cara pembuatannya yang menusuk-nusuk tubuh dengan jarum dan menamkan tinta menjadikannya haram. Karena orang lain dibiarkan melihat aurat tubuh kita. Segala perbuatan yang dilakukan dengan cara menyiksa dan menyakiti badan, menyebabkan datangnya laknat, baik terhadap yang mentatto ataupun orang yang minta ditatto.
  • 16 Aug 2014 04:38:00
    Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua-dua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan melanggar bahu seorang laki-laki di sebuah kedai barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap acuh tak acuh seperti kebiasaannya.
  • 15 Aug 2014 06:28:00
    Kisah Ainul Mardhiah dikisahkan dalam Hadits Nabi riwayatkan oleh Tirmidzi: Ketika pagi hari di bulan Ramadan, Nabi sedang memberikan targhib (semangat untuk berjihad) kepada pasukan Islam. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena berjihad di jalan Allah, maka Allah akan menganugerahkannya Ainul Mardhiah, bidadari paling cantik di surga.”
  • 15 Aug 2014 06:08:54
    Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua-dua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan melanggar bahu seorang laki-laki di sebuah kedai barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap acuh tak acuh seperti kebiasaannya.
  • 15 Aug 2014 04:35:00
    Hukum penamaan adalah hal yang penting. Setiap pria ataupun perempuan hanya diperbolehkan menambahkan “nama ayahnya” saja di belakang nama dirinya dan mengharamkan menambahkan nama lelaki lain selain ayah kandungnya di belakang namanya, meskipun nama tersebut adalah nama suaminya. Karena dalam Islam, nama lelaki di belakang nama seseorang berarti keturunan atau anak dari lelaki tersebut.
  • 15 Aug 2014 00:40:00
    1. Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
  • 14 Aug 2014 07:39:00
    Kemudian para pedagang susu kambing yang curang memaksa sang ibu dan gadis itu untuk mencampur susunya dengan air. Tapi dengan keras gadis itu menolaknya. Alhasil susu kambing murni yang di jual gadis tersebut tidak laku dipasaran karena dianggap terlalu mahal.
  • 14 Aug 2014 05:59:00
    1. Memberi 1 dibalas 10 Misal kita memiliki Rp100.000, bila kita menyedekahkan sebagian dari uang tersebut maka perhitungannya matematika yang normal sebagai berikut:
  • 12 Aug 2014 23:45:17
    Semua waktu adalah baik. Namun demikian, sebagian orang masih meyakini adanya hari sial dan bulan sial. Dan dalam menentukan waktu pernikahan mereka menghitung-hitung dan mencari waktu yang mereka yakini sebagai waktu yang baik, hari dan bulan baik, supaya terhindar dari bala bencana, seperti perceraian, menurut anggapan mereka. Keyakinan seperti itu disebut tasyaum atau thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam.
  • 12 Aug 2014 20:02:46
    Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.
  • 8 Aug 2014 06:59:00
    1. Wanita “Ananah” Wanita yang banyak mengeluh tentang apa saja yang telah diberi dan dilakukan suami untuk dirinya dan rumah tangganya. Wanita seperti ini suka merasa tidak puas dan tidak suka atas apa yang telah dilakukan suami untuk keluarga dan dirinya.


eXTReMe Tracker